langkah perjalanan Ikatan Pelajar Muhammadiyah selama ini mempunyai banyak rintangan dan tantangan yang menghadang. Itu semua tidak bukan karena nama besar dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah sehingga tidak berlebihan rasanya jika menyebut IPM sebagai salah satu penggerak civil society dikalangan pelajar. Jika dilihat dari awal berdirinya IPM sampai perubahan nama menjadi IRM sehingga kembali lagi menjadi IPM sungguh banyak proses dan dinamika yang harus dilalui sehingga membuat kader IPM menjadi kader yang selalu siap untuk menghadapi perubahan.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi otonom muhammadiyah yang bergerak dikalangan pelajar sangat sadar akan fungsinya sebagai penerus persyarikatan Muhammadiyah dan bangsa. Didalam struktur kepengurusan IPM terdapat bidang yang bertugas dan mempunyai tanggung jawab terhadap perkaderan yang disebut bidang kader. Perkaderan dalam IPM disebut dengan Taruna Melati yang mempunyai tingkatan dari TM I, TM II, TM III, TM utama.

Seorang kader IPM dituntut menjadi contoh bagi lingkungan hidupnya, karena sebutan kader memang mudah tapi tidak semudah dengan tanggung jawab yang didapat.

Istilah kader, umumnya menunjukkan pada pengertian kelompok elite atau inti sebagai bagian kelompok yang terpenting dan yang telah lulus dalam proses seleksi. Adapun pengertian kader yang lebih operasional adalah seseorang yang telah menyetujui dan meyakini kebenaran suatu tujuan dari suatu kelompok tertentu, kemudian secara terus menerus dan setia turut berjuang dalam proses pencapaian tujuan yang telah disetujui dan diyakini itu.

Tentu saja seorang kader harus mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap ikatan sehingga menjadi individu yang mempunyai komitmen dalam mengembangkan ikatan. Dalam proses pengembangan intelektual sangat diperlukan kegigihan dan kemauan untuk maju. IPM sebagai salah satu organisasi kader Muhammadiyah sangat berperan penting dalam proses perkaderan dikalangan pelajar. Jika kita lihat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh kita selaku kader ikatan.

Seorang kader harus selalu mengingat pesan Ahmad Dahlan “ Hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah “ dari pesan tersebut kita bisa menangkap makna yang terkandung yaitu seorang kader harus mampu bersaing dalam pergumulan dunia karena dengan cara seperti itulah seorang kader bisa membawa Muhammadiyah bertahan dalam menghadapi perubahan zaman. Selaku organisasi otonom IPM  merupakan organisasi yang sudah lama exist serta mempunyai anggota muda yang masih butuh belajar dari segala hal.

Langkah sistematis harus dilakukan berpegang teguh pada tujuan bersama dilandaskan saling percaya, bahu membahu membangun kemajuan umat dan ikatan. Perlu penyesuain dalam system perkaderan. Pendekatan dogmatis dan hafalan sudah saatnya digantikan dengan pendekatan partisipatif dan ekspresif untuk merangsang kreatifitas dan percaya diri. Oleh karena itu dalam pengembangan proses kaderisasi dapat kita lihat dari beberapa hal yang harus dilihat kembali serta tantangan kedepan yang mesti dihadapi.

Pada saat sekarang kita sangat menyadari bahwa dengan perkembangan zaman membuat kita harus mampu bersaing menghadapi perubahan zaman. Ikatan Pelajar Muhammadiyah selaku organisasi kader dalam persyarikatan yang mempunyai basis masa pelajar mempunyai tanggung jawab yang besar, karena kaum intelek inilah yang sangat mudah terpengaruh perubahan zaman yang sering disebut era globlisasi.

Didalam proses perkaderan IPM kita mengenal Taruna Melati yang mempunyai tingkatan dan pembahasan yang berbeda. Jika diadakan penelitian tentang bagaimana proses perkaderan IPM yang sudah dilaksanakan meungkin kita tidak bisa menyebut berhasil 100 %, karena tingkat keberhasilan itu tidak bisa diukur untuk pusat saja tetapi juga harus melibatkan seluruh perkaderan disetiap tingkatan pimpinan yang ada. Jika kita lihat saat sekarang para kader IPM baik dari pimpinan Ranting sampai Pusat masih ada yang belum mengerti betul dengan arti dari kemuhammadiyahan. Keadaan seperti menimbulkan pertanyaan “ Apa yang salah pada system perkaderan?.

Perkembangan perkaderan ikatan hanya sebatas ruang lingkup muhammadiyah dengan banyak kita lihat wilayah dan daerah yang hanya mampu mengkader para pelajar yang bersekolah di sekolah muhammadiyah. Jika kita lihat kembali kepada sejarah awal berdirinya IPM sampai perubahan nama menjadi IRM kebanyakan dari kader IPM itu adalah para pelajar sekolah umum. Inilah kelemahan kita pada saat ini, karena kita terlalu terlena dengan banyaknya sekolah muhammadiyah yang melakukan penerimaan siswa setiap tahunnya. Memang diakui bahwa kader IPM sekarang bisa dikatan seorang Kader yang cengeng tidak mau bersaing dan mengembangkan IPM ke luar.

Perkembangan suatu organisasi tidak terlepas dari peran kader atau calon penerus yang dihasilkan. Pada saat ini IPM selaku organisasi pelajar yang terbesar di Indonesia sudah mampu berbuat untuk kemajuan bangsa. Itu semua tidak terlepas dari kader yang dihasilkan mapu membawa perubahan dengan ikut andil dalam pemerintahan. Tapi IPM tidak boleh terlena dengan keadaan ini, karena dengan berjalannya waktu serta pergantian pemimpin menjadi perubahan kebijakan dan kemapuan. Di era kemajuan teknologi dan informasi saat ini sangat kita rasakan begitu besarnya pengaruh asing yang masuk ke dalam kebudayaan kita. Sehingga bisa dikatakan jika tidak mampu bersaing akan tertinggal. Jika dihubungkan dengan perkaderan IPM ini sangat berkaitan erat, karena seorang kader mesti pandai dalam membaca peluang dan menguasai ilmu dan teknologi. Sistim perkaderan yang dipakai selama ini harus ada perubahan sesuai dengan keadaan saat ini, karena sistim SPI hijau dan merah tidak sepenuhnya menjadi acuan perkaderan IPM sekarang tapi juga harus ditambah dengan kombinasi yang menarik.

Jika dilihat kualitas kader IPM memang tidak bisa dikatankan tidak berkualitas tapi sebagian dari kader yang dihasilkan tidak mampu dalam menjalankan organisasi dengan baik, contohnya dapat kita lihat diwilayah Riau sendiri dari 100 % kader yang dihasilkan bisa dianggap 70 % nya hanya mengikuti tanpa mengerti dengan betul apa tujuan perkaderan sehingga kader tersebut tidak mampu menerapkan hasil dari perkaderan yang telah didapatkan. Karena saya pribadi melihat bahwa kader IPM terlalu banyak konsep tanpa aplikasi dilapangan.

Memang kita selama ini selalu rutin melakukan perkaderan baik dari Fortasi sampai Taruna Melati Utama, tapi apakah kita sudah melihat apa yang bisa dihasilkan kader setelah itu selain mampu menjadi pemberi materi bagi kader selanjutnya hanya itu yang nampak saat ini. Padahal dengan era globalisasi pada saat ini kita sebenarnya tidak dituntut untuk hanya membuat banyak konsep tapi butuh aplikasi yang jelas dari setiap konsep tersebut. Karena jika terlalu banyak konsep kader kita akan terbuai dengan mimpi sehingga bisa dikatakan kader kita tidur dan hanya bermimpi.

Kesimpulan

Dengan mengadakan perkaderan memang kita akan menciptakan calon penerus ikatan. Pengetahuan juga sangat dibutuhkan bagi seorang kader, tapi itu semua belum cukup tanpa adanya pembibingan lebih lanjut dari fasilitator. Sehingga sekolah kader yang dicanangkan oleh PP IPM sangat tepat. Sekolah kader ini merupakan jalan terbaik dibuat disetiap pimpinan untuk melatih dan membina kader secara continue sehingga tercapailah tujuan kader itu sendiri sebagai penerus persyarikatan.

Jika dilihat kenyataan sampai saat ini sekolah kader tersebut belum ada bergerak dan hampir setiap wilayah dan daerah belum melaksanakannya. Dan inilah merupakan suatu penghambat kemajuan proses perkaderan IPM karena jika dengan perkaderan taruna melati saja itu belum cukup. Tanpa ada proses yang dilalui setelah perkaderan tersebut. Maka inilah pekerjaan rumah yang harus dipikirkan dan dicarikan jalan penyelesaiannya. Sehingga kader IPM bukan hanya kader Muhammadiyah tapi juga kader bangsa untuk mewujudkan masyarakat baldatun tayibatun warabun ghafur.Nuun Walqalami wamaa yasthuruun


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *